Rabu, 22 Juni 2022

Fenomena Traksi Roda Lokomotif

Fenomena Traksi Roda Lokomotif - Ada beberapa kejadian di roda lokomotif ketika berjalan yaitu.

1. Wheel Slip
Timbul akibat adanya perbedaan tegangan dan/atau arus listrik yang mengalir ke traksi motor sehingga terbaca pengaman lokomotif sebagai wheel slip. Biasanya terdapat beda kecepatan putar antara as roda satu dengan as roda yang lain.

2. Wheel Skid
Fenomena skid ialah momen dimana roda berhenti berputar namun sarana KA masih bergerak maju. Skid biasanya terjadi ketika rem dikerjakan maksimum secara mendadak dengan kecepatan KA yang cukup tinggi. Skid terjadi tidak hanya di lokomotif, melainkan bisa terjadi pada roda kereta/gerbong. Kerugian akibat terjadinya skid ialah roda tergerus satu sisi saja ke rel sehingga permukaan roda tidak lagi melingkar (roda gecol). Selain itu jika di saat bersamaan skid timbul dan roda menghantam batu atau lainnya akan menyebabkan roda keluar dari rel (anjlok) akibat terjegal benda asing tersebut. Oleh karenanya masinis harus berhati-hati dalam menggunakan rem darurat/emergency brake.

3. Wheel Creep
Creep dapat diterjemahkan sebagai merangkak atau merayap. Di perkeretaapian sendiri, creep ialah fenomena dimana roda berputar kencang hampir keseluruhan as roda namun hampir tidak ada penambahan kecepatan pada KA. Penyebabnya sendiri bisa dari beban berat rangkaian terlalu berat, tanjakan yang cukup curam, atau lokomotif yang adhesi nya rendah (tenaga lok besar namun berat lokomotif ringan). 

Sabtu, 11 Juni 2022

Jembatan Timbang Kereta Api

Jembatan Timbang Kereta Api - 
Lemahabang


Pasoso





Arjawinangun 

Stasiun Namun Tidak Memiliki Persinyalan

Stasiun Namun Tidak Memiliki Persinyalan - dimana?

1. Jakarta Gudang
2. Pasoso



3. Sungai Lagoa




4. 

Jalur Tunggal Ganda Alias Sepur Kembar

Jalur Tunggal Ganda Alias Sepur Kembar - 

1. Cirebon - Cirebon Prujakan

2. Semarang Tawang - Semarang Poncol



3. Yogyakarta - Lempuyangan




4. Surabaya Gubeng - Wonokromo




Stasiun Dengan Singkatan Unik Ga Nyambung

Stasiun Dengan Singkatan Unik Ga Nyambung - Umumnya singkatan nama stasiun masih ada hubungan dengan nama aslinya. Paling tidak urutan huruf singkatan masih urut dengan urutan huruf pada nama stasiun. Sebagai contoh stasiun Jember memiliki singkatan stasiun JR. Masih masuk akal, bukan? Atau stasiun Arjawinangun memiliki singkatan stasiun AWN.

Contoh stasiun yang memiliki singkatan aneh namun masih nyambung seperti stasiun Karangasem, yaitu KNE. Jika diurut maka pengambilan singkatan seperti ini "KaraNgasEm". Walau aneh namun masih nyambung, dong.

Berikut daftar 3 Stasiun Dengan Singkatan Unik Ga Nyambung.

1. Stasiun Cakung (CUK)
Stasiun ini terletak di wilayah Daerah Operasi 1 Jakarta. Singkatan CUK ini cukup terkenal baik di kalangan pegawai kereta api sendiri maupun untuk orang umum karena ketidaknyambungannya. Jika dilihat dari sejarah, dimulai dari jaman Hindia Belanda pun stasiun Cakung sudah memiliki singkatan CUK. Semisal kita terjemahkan ke ejaan lama menjadi stassiun Cakoeng pun tidak ada unsur urutan maupun kesamaan dengan singkatan CUK. CUK deh 😅

2. Stasiun Solo Jebres (SK)
Berikutnya kita ke wilayah Daerah Operasi 6 Yogyakarta. Bagaimana bisa stasiun Solo Jebres memiliki singkatan SK? Jika sekadar menerka sih harusnya Solo Kota dong. Namun ternyata ada Stasiun Solo Kota dengan singkatan STA.

Solo Jebres = SK? Jika menilik dari segi sejarah, maka dulu stasiun ini digunakan oleh Keraton Kasunanan. Mungkin ada yang memahami, silahkan tulis di kolom komentar ya.

3. Stasiun Tanjung (TGN)
Untuk stasiun ini jarang ada yang tahu kalau ternyata singkatan stasiunnya tidak nyambung juga. Stasiun Tanjung dimiliki oleh Daerah Operasi 3 Cirebon dan memiliki singkatan TGN. Coba kita telaah lagi, "TanjuNG". Loh kok? Masa iya "TanjuGN"? Harusnya TNG dong? TNG sendiri sudah digunakan oleh stasiun Tangerang. Selidik punya selidik ternyata di jaman SCS (Samarang - Cheribon Stoomtram Maatschappij), stasiun ini bernama Tanjung Pelabuhan. Untuk jaman sekarang sungguh tidak nyambung stasiun Tanjung disingkat TGN.
Stasiun Tanjung (TGN)

Jumat, 03 Juni 2022

Jarak Antar Stasiun Terjauh di Jawa

KA LimasPriuk Cargo di petak CKP - TJS

Jarak Antar Stasiun Terjauh di Jawa - Jarak antar stasiun diukur dari poros stasiun ke poros stasiun dan dapat disebut sebagai petak jalan. Petak jalan adalah bagian jalur kereta api yang terletak di antara dua stasiun berdekatan.

Untuk tahu berapa jarak antar stasiun dapat dengan mudah dilihat di Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA). Dimana jarak antar stasiun terpanjang atau terjauh di pulau jawa?

1. Slawi - Prupuk (24.98 km)
Petak jalan terjauh di pulau Jawa dimiliki oleh DAOP 5 Purwokerto. Jarak antara stasiun Slawi ke Prupuk hampir mencapai 25 kilometer tanpa adanya sinyal blok. Selain itu, lintas ini masih jalur tunggal. Dengan tentu jika terdapat KA untuk bersilang maupun antrean akan menyebabkan waktu tunggu yang lumayan lama. Pemandangan hutan jati menjadi suguhan yang menarik perhatian.
Jarak 24.98 km SLW - PPK

KA Kamandaka melintas petak Slawi - Prupuk

Minggu, 22 Mei 2022

Kelandaian Ekstrim Jalur Aktif Tercuram Di Jawa

Emplasemen Stasiun Kalibaru, Banyuwangi

Kelandaian Ekstrim Jalur Aktif Tercuram Di Jawa - Kelandaian, atau dalam KBBI disebut kemiringan, adalah sudut yg terbentuk oleh perpotongan antara bidang lapisan batuan dengan bidang datar yg dihitung berdasarkan bidang vertikal dengan menggunakan kilometer. Istilah lain yang digunakan ialah gradien.

Di perkeretaapian digunakan marka untuk membantu petugas dalam membedakan jalur tanjakan, datar, maupun turunan. Marka tersebut tertuang pada Peraturan Dinas 3 tentang Semboyan, tepatnya yaitu Semboyan 10J - Marka Kelandaian.

Semboyan 10J - Turunan menghadapi Turunan

Cara membaca kelandaian ialah sebagai berikut. Pada sisi kiri dengan cat warna hitam ialah kontur jalan sebelum S.10J, sedangkan sisi kanan dengan cat warna putih ialah kontur jalan yang akan dihadapi dibelakang S.10J. Seberapa curam/landai? Maka dituliskan lebih detail berupa angka.

Seperti contoh di atas, nilai kemiringan jalur KA ialah 1/142 dengan jarak sejauh 633.5 meter. Sulit atau asing membacanya? Kita sederhanakan lagi. Ambil kalkulator dan bagi saja angka 1 sebagai pembilang, dibagi dengan 142 sebagai penyebut. Hasilnya ialah 0.00704..., yang kita konversi lagi dalam bentuk persen (per seratus) yaitu 0.704 persen atau dalam bentuk permil (per seribu) yaitu 7.04 permil.

Bagaimana? Sudah bisa mengetahui perhitungan angka yang tertera di S.10J menjadi bacaan permil? Kalau belum coba disimak perlahan. Kalau sudah kita lanjutkan arti kelandaian 7.04 permil tersebut.

Gradien/kelandaian 7.04 permil dapat kita artikan bahwa kereta api menghadapi perubahan elevasi sekitar 7 meter di atas permukaan laut (MDPL) setiap bergerak 1.000 meter. Misal di S.10J tadi KA berada pada elevasi 257 MDPL, maka ketika KA bergerak sejauh 1.000 meter dengan kelandaian konstan 7 permil akan berada pada elevasi 250 MDPL. Sayangnya pada S.10J tadi hanya sejauh 633.5 meter saja dan KA tidak mencapai elevasi 250 MDPL, melainkan sekitar 252.6 MDPL . Setelah di titik itu, KA akan menjumpai lagi S.10J yang lain dengan perubahan nilai/kontur jalan.

Kembali ke topik, dimana saja Kelandaian Ekstrim Jalur Aktif Tercuram Di Jawa? Penulis akan mengupas berdasarkan data yang bersumber dari GAPEKA 2021. Simak sampai habis!